Blog

August 24, 2017

Sejarah Gunung Bromo

Gunung Bromo (dari bahasa Sanskerta / Jawa Kuno: Brahma, salah satu dewa Hindu utama), gunung berapi ini masih aktif dan paling terkenal sebagai objek wisata di Jawa Timur. Sebagai objek wisata, Gunung Bromo menjadi atraktif karena statusnya sebagai gunung berapi yang masih aktif.
Bromo yang memiliki ketinggian 1.2392 meter di atas permukaan laut ini terletak di empat wilayah, yaitu Probolinggo, Pasuruan, Lumajang, dan Malang. Bentuk tubuh gunung Bromo mesh antara lembah dan lembah dengan kaldera atau lautan pasir seluas 10 kilometer persegi.
Gunung Bromo memiliki kawah dengan diameter ± 800 kaki (utara-selatan) dan ± 600 meter (timur-barat). Sedangkan daerah bahaya berupa lingkaran dengan radius 4 km dari kawah pusat Bromo.

1.Sejarah letusan

Selama abad ke-20, gunung ini terkenal sebagai turis yang meletus tiga kali, dengan interval waktu yang teratur, yaitu 30 tahun. Letusan terbesar terjadi pada tahun 1974, sementara letusan terakhir terjadi pada tahun 2004. Gambar Gunung Bromo Gambar Gunung Bromo dari NASA.
Sejarah letusan Bromo: 2004, 2001, 1995, 1984, 1983, 1980, 1972, 1956, 1955, 1950, 1948, 1040, 1939, 1935, 1930, 1929, 1928, 1922, 1921, 1915, 1916, 1910, 1909, 1907, 1908, 1896, 1893, 1890, 1888, 1886, 1887, 1886, 1885, 1886, 1885, 1877, 1867, 1868, 1866, 1865, 1865, 1860, 1859, 1858, 1858, 1857, 1856, 1844, 1843, 1843, 1835, 1830, 1830, 1829, 1825, 1822, 1823, 1820, 1815, 1804, 1775, dan 1767.

2.Bromo sebagai objek wisata

Perjalanan melalui pintu barat dari arah pintu masuk desa Pasuruan Tosari untuk menuju ke pusat atraksi (pasir laut) yang cukup berat karena medan yang harus ditempuh tidak bisa dilalui kendaraan roda 4 biasa. Sebab jalan yang turun dari pendakian ke arah lautan pasir sangat curam, kecuali kita menyewa jip yang disediakan oleh pengelola tur, sehingga banyak wisatawan yang berjalan menuju ke lokasi pusat. Tapi kalau kita melewati pintu utara arah sebelum memasuki kawasan Tongas Probolinggo yaitu, kita menuju ke desa Cemoro yang gada sebelum turun ke arah lautan pasir itu tidak terlalu berat karena turunan kemiringannya tidak terlalu curam sehingga Bahwa setiap motor bisa menempuh perjalanannya.Sebagian besar wisatawan yang ingin dengan mudah mencapai lautan pasir melewati jalur ini. Tetapi jika Anda ingin melihat matahari terbit yang sering ditunjukkan dalam gambar – gambar, memotret banyak pendakian teratas maka Anda lebih praktis melewati jalur barat.
Tetapi jika Anda memiliki semangat petualang maka Anda bisa mencoba rute yang jarang ditempuh wisatawan. Yakni melalui kota Malang, Anda masuk melalui kota kecil Pronojiwo yang tumpang tindih kemudian memasuki kota dan melalui cagar alam yang sangat indah dari sini Anda akan menemukan sebuah garpu di jalan di mana menuju selatan akan memasuki ranu pane (menuju pegunungan Semeru) dan ke arah utara Anda memasuki lautan pasir yang bromo terletak di punggungan selatan bromo.T-junction dinamakan Jemplang. Perjalanan dimulai dengan menurun dan kemudian disambut dengan padang rumput yang panjang berubah menjadi lautan pasir. Jalan ini akan melewati samudera di sekitar pasir Gunung Bromo selama kurang lebih 3 jam. Jalurnya sebenarnya tidak terlalu curam dan bisa dilewati oleh sepeda motor, namun membutuhkan semangat petualang karena jalurnya masih jarang dilalui dan tidak ada satu persinggahan dan penghuni rumah. Kami benar-benar akan hadir dengan perjalanan yang sangat menantang. Tapi Anda akan dihargai dengan rahasia Bromo yang lain, yang sangat jarang terlihat turis, padang pasir dan sabana rupanya sangat luas untuk berada di balik Gunung Bromo. Ini adalah pemandangan yang berlawanan di sisi utara gersang dan berdebu.Tapi ingat, sebaiknya jangan melalui rute ini di malam hari dan atau dalam cuaca berkabut. Line tidak akan terlihat di kondidi seperti ini.
Lautan pasir merupakan andalan wisata Gunung Bromo, di alam pegunungan yang sejuk, kita bisa melihat padang pasir dan rerumputan. Sementara yang paling dinanti Gunung Bromo adalah pemandangan saat matahari terbit dan terbenam karena nampak jelas dan sangat indah. Meski perjalanan ke Bromo sangat berdebu, namun tak terasa, karena keindahan yang disuguhkan sangat indah.
Liburan menuju ke sortir bromo praktis jika Anda menyukai tipe traveler dan melalui pintu utara. Anda dapat melakukan kunjungan dalam waktu 12 jam. Tentunya jika Anda mulai dari kota Surabaya, Malang, Jember dan sekitarnya. Perjalanan bisa dimulai dari pukul 12 malam ini sehingga Anda akan sampai sekitar 2-3 pagi. Dimana Anda bisa bersantai sebelum melihat matahari terbit. Vendor makanan dan minuman di area laut pasir biasanya sudah buka sebelum jam 3 pagi, sehingga Anda bisa bersiap-siap untuk mendaki di atas anak tangga bromo yang terkenal. Nikmati pemandangan sampai jam 9 pagi dan kamu juga bisa kembali ke kota keberangkatanmu sekitar jam 12 siang.Sebagai catatan, jika Anda melakukan perjalanan diareal lautan pasir di tengah kegelapan malam, sebagai patokan menuju area parkir di sekitar pura Anda bisa melihat pasak beton yang sengaja diberikan sebagai penunjuk menuju area pura. Dan jika Anda tersesat jangan panik dan lanjutkan perjalanan (terutama di tengah kabut tebal), tunggu saja karena biasanya dimulai pada 2-3 pagi beberapa pengendara melintas diarea carter lautan pasir.

3. Bromo sebagai gunung suci

Bagi warga suku Bromo Tengger, Gunung Brahma (Bromo), diyakini sebagai gunung keramat. Setahun sekali komunitas Yadnya mengadakan upacara Tengger Kasada atau Kasodo. Upacara diadakan di sebuah kuil yang berada di bawah kaki Gunung Bromo dan dilanjutkan ke utara ke puncak Gunung Bromo.Upacara diadakan pada tengah malam sampai pagi setiap bulan purnama sekitar pukul 14 atau 15 di Kasodo (kesepuluh) sesuai kalender Jawa.

Wsata Gunung , ,
About anakgunung

Menjelajah Negeri, menjaga Harta Karun Yang tersembunyi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kubungi Kami